Mental ‘Pekerja’ : Bahaya Laten bagi Keberlanjutan NGO

pemberdayaan online, pemberdayaan masyarakat

Kerja di NGO itu berat…

biar aku saja

 

Kerja di NGO – Kerja di NGO ? Kutipan barusan menjadi pembukaan yang barangkali mengingatkan pegiat – pegiat NGO/CSO, bahwa baik langsung maupun tidak langsung mereka pernah berpikir demikian. Sebagai salah satu pihak yang melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat, NGO atau CSO mempunyai tantangan tersendiri bagi orang – orang di dalamnya. NGO rentan didatangi oleh banyak pelamar. Bagi yang sudah ‘tahu’ NGO akan dijadikan pilihan ‘kesekian’ untuk perjalanan karirnya. Sedangkan bagi yang belum ‘tahu’ NGO bisa menjadi pilihan pertama untuk berkarir bagi mereka.

‘Apa nggak kepikiran buat ndaftar CPNS? Atau ndaftar dimana gitu?’ atau pertanyaan serupa, adalah hal yang sering ‘menghantui’ orang yang berada didalam NGO. Tantangan bagi NGO adalah untuk menyulap atau bahkan menyingkirkan hambatan atau potensi hambatan dari dalam tersebut. Hambatan yang dimaksud adalah keberadaan mental ‘pekerja’ dalam NGO.

 

Baca Juga: Simak! Berikut Hal dasar yang ‘Mutlak’ Diperlukan dalam Pemberdayaan

Jika dunia entrepreneur mengenal mental pengusaha dan mental karyawan, maka dalam dunia pemberdayaan masyarakat boleh membuat kontradiksi serupa dengan ‘musuh’ besarnya yaitu mental ‘pekerja’. Lalu apa saja ciri – ciri mental ‘pekerja’ tersebut? Simak penjelasan berikut

Pengutamaan Gaji

Layaknya bekerja pada sektor berorientasi bisnis seperti perusahaan, orang akan mengira bahwa bidang kerja NGO akan sama seperti di perusahaan, tiap pekerjaan atau upaya yang dilakukan dengan membawa nama lembaga akan selalu dapat di ‘uang’ kan bahkan mengambil ‘untung’. Apabila tidak dijamin dengan penyesuaian gaji, asuransi,tunjangan maka pekerjaan akan ditinggalkan begitu saja.

profesional NGO

profesional NGO

Pembatasan Diri Pada Jam Kantor

Pada prinsipnya bergiat dan pemberdayaan masyarakat tidak mengenal hari libur. Keduanya merupakan proses yang tidak dapat disamakan SOP nya dengan proses – proses institusional. Layaknya rumah sakit yang tiada hentinya menerima pasien dan keluhan penyakit pasien, pegiat NGO juga mesti menerapkan hal serupa dalam SOP pemberdayaan masyarakat yang dilakukannya. Secara jam kantor (bagi NGO yang berkantor) memang tidak ada aktifitas, akan tetapi marwah pemberdayaan masyarakat tetap terlaksana diluar sana.

Kecenderungan Menunggu Instruksi

Bergerak sesuai instruksi adalah sebuah kewajaran dan sebuah keharusan di situasi tertentu. Akan tetapi pegiat NGO akan mendapati sebuah situasi dimana kegiatan atau aktifitas kerja tetap berjalan tanpa menunggu instruksi. Hal tersebut juga berpengaruh pada attitude yang terbangun bahwa kepatuhan terjadi karena instruksi bukan murni karena kesadaran.

Demikian beberapa poin yang menjadi indikator mental ‘pekerja’ pada NGO atau CSO yang membidangi pemberdayaan masyarakat. Pengurus atau manajemen dalam NGO bertanggung jawab untuk mengelola dan membina SDM yang ada didalam nya. Mau tidak mau, harus diakui bahwa SDM yang rentan dengan kondisi mental tersebut akan menggantikan posisi pengurus dan menjamin keberlanjutan organisasi NGO. Maka hal tersebut menjadi tantangan atau pekerjaan rumah yang panjang bagi NGO.

profesional NGO

profesional NGO

Akan tetapi, jika suatu NGO mendapati orang – orang didalamnya tumbuh dan berkembang tanpa mengalami kondisi mental diatas, hal tersebut bukanlah ‘lampu hijau’ bagi NGO atau sistem manajemen yang ada didalamnya untuk dapat semena – mena mengeksploitasi SDMnya. Bagi NGO yang membidangi Hak Asasi Manusia hal tersebut juga menjadi catatan penting bahwa orang yang berada di dalamnya adalah manusia yang juga berdaulat atas haknya. Jangan sampai NGO justru mewujudkan sebuah paradoks “Entitas yang menyuarakan dan memperjuangkan kemanusiawian, justru di penuhi ketidakmanusiawian di dalamnya”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *