Pemberdayaan untuk Menuju Kesejahteraan Petani

pemberdayaan online, pemberdayaan masyarakat

Pemberdayaan adalah istilah yang tercantum dalam KBBI (2001) diartikan sebagai kata merujuk kepada ‘proses, cara, perbuatan memberdayakan’. Pemberdayaan memiliki kata dasar ‘berdaya’ yang artinya ‘berkekuatan’ dan untuk mengatasi sesuatu’. Terdapat kata lain yang mengandung kata dasar ‘berdaya’ adalah ‘memberdayakan’ yaitu kata kerja yang artinya ‘membuat berdaya’.

Pemberdayaan sebagai kata benda memiliki akar kata ‘daya’. Di dalam KBBI istilah ‘daya’ memiliki empat makna; 1) kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak, 2) kekuatan; tenaga (yang menyebabkan sesuatu bergerak, dsb), 3) muslihat, 4) akal, ikhtiar, dan upaya.

Pemberdayaan Menurut KBBI

‘Proses, cara, pebuatan yang memungkinkan seseorang memiliki kemampuan,  untuk melakukan sesuatu atau untuk bertindak’. Mengacu kepada rumusan pemberdayaan tersebut maka kerja pemberdayaan adalah menganalisis proses, dilakukan oleh berbagai pihak yang memungkinkan seseorang menjadi berdaya. Kegiatan pemberdayaan penting dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan pada kelompok terpinggirkan atau termiskinkan.

Kemiskinan merupakan fenomena yang lazim, di negara berkembang, terdapat kelompok maupun komunitas yang mengalami fenomena kemiskinan salah satunya petani. Disamping keberadaannya yang jarang dianggap sebagai profesi. Tidak dianggapnya petani sebagai bagian dari profesi membatasi petani tersebut untuk mendapatkan akses jaminan sosial.

petani sejahtera

petani sejahtera

Sektor Pertanian merupakan prioritas yang kurang mendapat perhatian maupun penanganan masalah. Disebut prioritas karena tumbuh kembangnya sektor pertanian salah satu kunci pembangunan nasional. Akan tetapi, pertumbuhan positif dari sektor pertanian masih belum dirasakan petani secara nyata. Tingkat kesejahteraan petani terus merosot sejalan dan berkutat dengan polemik ‘khas’ yang terus berkembang di dalamnya.

Petani dikenal sebagai produsen yang berhasil menyediakan pangan bagi penduduk, bahan baku industri, lapangan kerja. Akan tetapi pencapaian tersebut belum mampu meningkatkan kesejahteraan petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian. Tingkat keuntungan kegiatan agri bisnis selama ini lebih banyak dinikmati oleh para pedagang dan pelaku agri bisnis di sektor hilir.

Faktor Pendorong Kesejahteraan Petani

Sumberdaya manusia yang handal mempunyai peranan yang penting dalam keberhasilan pembangunan pertanian selain produksi dan pemasaran. Ada beberapa faktor yang menyebabkan tidak tercapainya kesejahteraan petani, yang dijelaskan dalam dua faktor yaitu Faktor internal dan eksternal.

 
Faktor internal ini meliputi : 1. Orientasi usahatani yang masih fokus pada produksi 2. Luas tanam yang sempit 3. Lemahnya peran kelembagaan petani serta 4. Rendahnya akses petani terhadap informasi pasar, dan informasi teknologi serta sumberdaya lainnya.

Faktor eksternal meliputi : 1. Fluktuasi harga dipasar yang lebih berdampak pada pedagang semata 2. Sebagai produsen, petani sering dihadapkan pada monopoli pasar 3. Minimnya akses permodalan atau pembiayaan dari perbankan dan 4. Tidak adanya jaminan/asuransi terhadap usaha tani dikarenakan petani belum secara resmi dianggap sebagai bagian dari profesi oleh negara.

Merujuk pada fenomena yang dihadapi petani tersebut terdapat 2 bentuk pemberdayaan yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Pemberdayaan Petani 

Pemberdayaan petani merupakan proses pendidikan yang bertujuan merubah pola pikir, perilaku, dan sikap petani. Petani perlu merubah pola kerja pertanian tradisional menjadi pertanian modern berwawasan agri bisnis melalui proses pendidikan berkelanjutan.

petani sejahtera

petani sejahtera

Terdapat Berbagai konsep pemberdayaan petani yang dapat diimplementasikan dalam bentuk pelatihan, penyuluhan dan permagangan sebagai salah satu upaya mengubah perilaku. Untuk itu diperlukan kegiatan penyusunan kebutuhan yang melibatkan pendamping desa dan perwakilan kelompok tani. Pendamping desa perlu dibekali dengan pemahaman spasial lokal, meliputi penguasaan dan pemahaman terhadap kondisi, potensi dan bahasa lokal. Sehingga mereka dapat menemukan sendiri yang dibutuhkan dan diharapkan.

Pemberdayaan Kelembagaan Petani

Berkembang tumbuhnya kelembagaan petani umumnya didasarkan atas adanya kepentingan dan tujuan bersama. UU No 16 tahun 2006 pasal 19, menjelaskan kelembagaan petani meliputi kelompok tani, gabungan kelompok tani, asosiasi dan koperasi. Penumbuhan kelembagaan petani dapat dimulai dari organisasi sosial kemasyarakatan yang selanjutnya diarahkan menjadi kelompok tani yang terikat dalam satu kepentingan.

Aspek yang juga perlu diperhatikan dalam penumbuhan kelompok tani adalah kesamaan kepentingan, sosial ekonomi, dan keselarasan hubungan antar petani. Pengembangan kelompok tani diarahkan pada kemampuan setiap kelompok tani dalam menjalankan fungsinya. Peningkatan kemampuan anggotannya dalam agri bisnis, dan penguatan kelompok tani menjadi organisasi yang kuat dan mandiri juga perlu dilakukan.

Untuk mempermudah dan mempersingkat alur komunikasi dan diseminasi teknologi, kelompok tani perlu diwadahi dalam kesatuan yang biasa disebut Gapoktan. Dalam Permentan nomor 273,penggabungan kelompok tani dalam Gapoktan dilakukan agar kelompok tani dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna.

Upaya tersebut mutlak perlu dilakukan dalam rangka penyediaan sarana produksi pertanian, permodalan, perluasan usahatani dari sektor hulu ke hilir. Dengan demikian profesi petani menjadi peluang usaha yang diminati dan mempunyai posisi tawar yang dipertimbangkan.

Penyusunan kebutuhan yang dilakukan oleh pendamping desa dan petani wajib dijadikan penjembatanan kepentingan antara petani dengan pemangku kebijakan. Kegiatan tersebut membentuk Gapoktan agar mampu menjadi lembaga yang tangguh dan mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *