Simak! Hal dasar yang ‘Mutlak’ Diperlukan dalam Pemberdayaan

pemberdayaan online, pemberdayaan masyarakat

Dasar Dasar Pemberdayaan

Sebagai bagian dari katalisator pembangunan, pemberdayaan masyarakat menjadi kegiatan vital yang bertujuan untuk meningkatan kapasitas masyarakat. Di tingkat makro, meningkatnya kapasitas masyarakat akan mendorong Indeks Pembangunan Manusia.  Dalam konteks pembangunan di Indonesia, kegiatan pemberdayaan umumnya dilakukan oleh organisasi masyarat sipil, organisasi non pemerintah (NGO) atau LSM dan juga tidak sedikit oleh pemerintah.

Secara kongkrit, pemberdayaan yang dilakukan oleh banyak pihak adalah dengan metode pendampingan, yaitu dengan berinteraksi langsung dengan calon penerima manfaat yang dalam hal ini adalah masyarakat. Selain itu intensitas pertemuan antara pemberi manfaat dan penerima manfaat menjadi hal mutlak yang diperlukan untuk menunjang kegiatan pemberdayaan masyarakat. Lantas apa lagi? Di bawah ini akan dijelaskan hal dasar yang mutlak diperlukan sebagai bekal wawasan pendamping lapang, petugas lapang, atau pihak yang berinteraksi langsung dengan penerima manfaat program.

Assessment atau Survey

Apabila seorang pendamping terlibat dalam inisiasi program pemberdayaan, pendamping WAJIB melakukan assessment maupun survey. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memetakan permasalahan dan kebutuhan masyarakat dampingan dari hulu ke hilir. Pengumpulan informasi kebutuhan dilakukan dengan wawancara.

peasant

peasant

Kunjungan Rutin

Mutlak perlu! Intensitas pertemuan antara pemberi manfaat dan penerima manfaat akan berpengaruh terhadap kedekatan emosi antar keduanya. Dengan kedekatan emosi tersebut penerima manfaat atau masyarakat akan mendukung keberlangsungan program pemberdayaan.

Penggunaan Bahasa Lokal

Penting! Selain intensitas pertemuan yang membangun kedekatan emosi, kesamaan identitas menjadi komponen penting yang juga membangun kedekatan emosi. Kesamaan identitas menuntun penerima manfaat untuk berfikir adanya keberpihakan pemberi manfaat pada penerima manfaat. Yup, memang adat ketimuran menjunjung respect yang tinggi bagi orang asing yang mempelajari budaya ketimuran.

Orang Indonesia umumnya akan latah memuja – muja orang asing yang lancar berbahasa Indonesia, bahkan mengucap beberapa kata saja sudah membuat orang terkesan dan memujinya. Jadi logika tersebut cocok diterapkan dalam kegiatan pemberdayaan, bagi pendamping yang berasal dari luar daerah dampingan, maka pelajarilah minimal beberapa istilah lokal dan gunakanlah sesekali istilah tersebut untuk membangun stigma ‘kesamaan identitas’.

berdaya bersama petani

berdaya bersama petani

Kesamaan Busana

Masih soal kesamaan identitas, penggunaan busana atau pakaian dalam kegiatan pendampingan juga merupakan hal penting selain penggunaan bahasa. Umumnya program pemberdayaan dilakukan di wilayah dengan ketimpangan sosial dan ekonomi yang tinggi. Pernah membayangkan? Menjadi pendamping yang berpakaian rapi layaknya orang kantoran atau sales dan berinteraksi langsung dengan masyarakat setiap saat.

Selain risih, masyarakat yang berada di wilayah dengan ketimpangan sosial yang tinggi, umumnya akan merasa rikuh karena dengan perbedaan identitas tersebut. Selain menunjukkan tingginya ketimpangan antara pemberi manfaat dan penerima manfaat (masyarakat) dan secara tidak langsung semakin tidak menunjukan kesan keberpihakkan pendamping. Jadi? Kesederhanaan berbusana wajib diperhatikan pendamping, memang sepele tapi dampaknya cukup signifikan untuk meraih kedekatan emosi antar keduanya.

Demikian, keempat hal dasar yang menjadi bekal pendamping program pemberdayaan masyarakat. Kesemua kebutuhan tersebut saling berkaitan, sehingga penguasaan untuk ke empat hal tersebut mutlak diperlukan.

 

“Berdaya Menuju Kesejahteraan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *